RSS

Bercak-bercak Kemajuan Teknologi Informasi dan Telemedia

Malam ini adalah akhir tugas kalender 2008 diganti penanggalan 2009, untuk melayani catatan umat manusia dalam kurun waktu 12 bulan ke depan. Penanggalan Masehi memang milik semua orang. Beda dengan perhitungan Saka yang umumnya hanya dipakai orang-orang Jawa dan Hijriah yang menjadi milik ummat Islam.

Tanggal 1 Muharram dan 1 Syura setahu saya selalu bersamaan. Setiap menyongsong tahun baru Saka dan Hijriah , pada malam hari suasananya terasa sakral. Para sesepuh melakukan tirakat, mencuci benda-benda pusaka, wiridan, atau melaksanakan amalan, mendekatkan diri pada Dzat Kang Murbeng Dumadi.

Suasana sakral di 1 Syura dan 1 Muharram, setiap tahun memang masih kita rasakan. Namun, sendi-sendi religi dan magisnya terasa ada pergeseran. Nilai-nilai tradisi mencuat hanya sebatas permukaan, tanpa nafas budaya spiritual kecuali formalitas. Paling tidak itulah yang saya rasakan sepanjang beberapa tahun ini. Generasi penerus tradisi kebudayaan lokal, menampakkan kebimbangan, antara keyakinan magis-spiritual dan nilai-nilai budaya keturunan dengan kultur sosial yang dipengaruh perkembangan logika matematis dan intelegensi yakni peradaban teknologi telemedia dan informatika. Di mana seakan tiada lagi batasan ruang dan waktu.

Paradigma ini menimbulkan dilema yang makin tahun kian memojokkan budaya lokal (perilaku, pikiran dan spiritual). Nilai-nilai etika, estetika dan norma-norma tradisional meluncur drastis mendekati dasar yang kering tanpa makna, apalagi penghayatan yang diimplementasikan dalam keseharian. Alam metafisika lamban mereka cerna, sedangkan fakta fiksi yang mereka saksikan menyeret pola pikir mereka ke arah hedonisme dan apologis.

Pergeseran nilai budaya dalam masyarakat, memang ada positifnya. Disatu sisi bila mereka dulu sangat yakin dengan ajimat dan benda pusaka, kini sebagian mereka lebih cenderung memegang ajaran agamanya. Di sisi lain, jika ini terus berlanjut, bisa jadi lambat laun kesenian, permainan dan kebudayaan tradisional yang sarat dengan nilai-nilai akan musnah. Misalnya, macapat, pagelaran wayang, gobak sodor, pathelele, bersih desa, labuh pari, atau bahkan kebiasaan gotong royong membangun fasilitas umum.

Mari kita melihat, malam tahun baru 2009 ini, meskipun hujan secara sporadis mengguyur beberapa desa, namun ternyata jalan-jalan menuju pusat kota Trenggalek penuh kendaraan warga yang merayakan. Sementara jika kita mau mengawasi dengan jeli, di sudut-sudut tertentu, banyak bergerombol anak muda. Apa yang mereka lakukan? Miras! Bahkan 2-3 tahun yang lalu saya kerap memergoki dan menerima info dari teman-teman, bahwa anak-anak muda ini juga ngoplo. Umumnya, mereka adalah anak yang kurang berpendidikan tapi sering kerja keluar kota/negeri. Acara ulang tahun anak di pedesaan pada 20 tahun lalu tidaklah istimewa, namun kini meriah, malah cenderung meniru-niru yang ada di televisi atau vcd.

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat terasa “revolusi” tradisi di kalangan warga Trenggalek. Ini berlangsung sejak awal-awal dibukanya kran pengiriman tenaga kerja kita keluar negeri. Dan bersamaan pula dengan mulai banyaknya siaran telivisi swasta berisi acara kualitas eksploitasi iklan dan beredarnya vcd dewasa bajakan. Lihatlah, bagaimana cara berdandan gadis-gadis desa sekarang, ditambah dengan telepon genggam yang ngetrend. Hampir tak ada lagi keluguan tersisa. Begitu pun dengan para perjakanya. Namun, masih untung tingkat produktivitas warga tidak mengalami penurunan. Sehingga, pergeseran kultur budaya tradisional tidak berpengaruh di sektor ekonomi. Budaya kerja keras, masih melekat.

Nah, Anda gak perlu heran bila menemukan remaja Trenggalek asal panggul, Munjungan atau desa lainnya, sekarang punya nama Afe Maria Stefany (afe=ave), Kristiano Ronaldo, Rafi Punjabi, Brian Adam Jordan (brian dibaca brian, bukan braen) ternyata dari keluarga muslim yang hidupnya pas-pasan. Sementara suatu saat kelak, nama-nama seperti Setu, Kemis, Leginah, atau Sulikah, akan hilang dari KTP.
 
24 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Desember 2008 in Bukan Issu, Islam

 

Tag:

Hasil Investigasi Jati Diri dan Integritas Joko Widodo

Keberangkatan tim investigasi dalam rangka mencari jati diri Joko Widodo yang sebenarnya sengaja dirahasiakan demi alasan keamanan anggota tim dan mencegah antisipasi dari pihak – pihak yang berada di balik rekayasa pembentukan citra palsu tentang Joko Widodo atau Jokowi.

Rekayasa pembentukan citra palsu terkait Jokowi sudah dilakukan secara intensif sejak Jokowi menjabat walikota Solo tahun 2005 lalu. Jokowi mendapat kompensasi besar dari pihak tertentu atas ‘bantuannya’ terhadap operasi pemberantasan ‘terorisme’ di Solo yang dilancarkan secara rahasia oleh intelejen AS dan oknum intelijen Indonesia.

Solo atau Surakarta dijadikan sebagai pusat medan perang pemberantasan terorisme oleh pihak intelijen AS semata – mata hanya berdasarkan kesaksian Hambali, tokoh terorisme yang ditahan AS di Guantanamo, saat dalam tekanan penyiksaan brutal pihak AS, menyebut Pesantren Ngruki di bawah pimpinan Ustad Abu Bakar Baasyir sebagai pusat terorisme Indonesia. Jokowi sebagai walikota Solo berperan membantu misi intelijen AS tersebut.

Pada tahun 2008, Jenderal Luhut Panjaitan sepakat ‘bermitra usaha’ dengan Jokowi melalui patungan pendirian PT Rakabu Sejahtera. Luhut selaku pemegang saham minoritas menyetor modal Rp. 15.5 miliar dan Gibran Rakabuming (anak tertua Jokowi, berusia 20 tahun pada 2008 lalu) menyetor Rp. 16.2 miliar. Luhut masuk sebagai pemegang saham di perusahaan milik Jokowi itu melalui PT. Toba Sejahtera, Induk grup usaha milik Luhut. Apa hidden agenda Luhut Panjaitan mendekati Jokowi sejak 6 tahun lalu itu ? Nanti kami sampaikan temuan – temuan tim investigasi.

Begitu tiba di bandara Adi Soemarno Solo, tim langsung memesan taksi menuju Bantaran Kali Pepe, Munggung, Manahan Solo yang selalu disebut – sebut dalam daftar riwayat hidup Joko Widodo sebagai rumah pertama keluarga Joko Widodo yang jadi korban penggusuran.

Perjalanan dari Bandara Adi Soemarno ke Bantaran Kali Pepe, Munggung Manahan Solo sekitar 38 menit. Setiba di di Bantaran Kali Pepe, tim langsung bertanya – tanya kepada warga setempat mengenai lokasi rumah pertama Joko Widodo yang selalu dicantumkan di riwayat hidup Joko Widodo menjadi korban penggusuran pertama oleh Pemda Surakarta. Dari belasan warga Bantaran Kali Pepe, tidak seorang pun warga yang mengetahui lokasi rumah pertama orang tua Joko Widodo. Bahkan semua warga di sana tidak yakin keluarga Joko Widodo pernah bertempat di Bantaran Kali Pepe, Manahan, Banjarsari, Surakarta.

Setelah hampir 1 jam bertanya – tanya, akhirnya tim investigasi disarankan menjumpai seorang warga Bantaran Kali Pepe yang merupakan teman kecil Iriana, istri Joko Widodo.

Yuli Susanto, itulah nama warga Bantaran Kali Pepe yang merupakan teman masa kecil Iriana. Rumahnya tidak jauh, sekitar 200 meter dari mulut gang jalan masuk menuju bantaran kali. Sampai rumah dimaksud, tim disambut hangat oleh Pak Yuli dan istrinya. Anak – anak mereka sedang berada di luar, mengikuti ibadah kebaktian Minggu.

Setelah memperkenalkan diri, tim langsung menanyakan kebenaran informasi rumah pertama orang tua Jokowi yang disebutkan beralamat di Bantaran Kali Pepe. Yuli Susanto, pria berusia hampir 50 tahun itu mengatakan tidak benar orang tua Joko Widodo pernah tinggal di sekitar Bantaran Kali Pepe. Yuli mengenal Joko Widodo selama puluhan tahun, sejak Jokowi bersekolah dasar di SD 111 Tirtoyoso, Manahan, Solo.

Berdasarkan keterangan Yuli Susanto, orang tua Joko Widodo bertempat tinggal di Jalan Ahmad Yani persis di depan Pool Bus Damri. Tetapi rumah itu sekarang tidak lagi ditempati oleh keluarga Joko Widodo. Yuli menambahkan, semasa kecil Joko Widodo selalu main di rumah paklek (adik bapaknya) yang bernama Miyono, seorang pengusaha mebel yang rumahnya juga berada persis di pinggir jalan Ahmad Yani. Miyono menjalankan perusahaan mebelnya bernama CV Roda Jati.
Mengenai siapa kedua orang tua Jokowi, Yuli Susanto mengaku tidak mengetahui persis. Tetapi dia mengaku kenal baik dengan keluarga istri Jokowi, karena Iriana atau Ana adalah teman sebaya dan sepermainan. Ayah kandung Iriana adalah seorang guru SMA. Iriana atau Ana memiliki 4 orang saudara, masing – masing bernama : Anik, Anto, Andi dan Anjas.

Mengenai kehidupan Joko Widodo semasa kecil, Yuli Susanto mengatakan Jokowi adalah anak orang berada karena ayah dan pakleknya adalah pengusaha mebel terkemuka di daerah itu. Jokowi sering datang bermain ke rumah pamannya itu dengan bersepeda. Pada masa itu sepeda untuk anak – anak adalah barang mewah dan hanya dimiliki oleh anak orang kaya saja.

Masa kecil Jokowi, memang jarang terlihat di sekitar rumahnya, dia lebih suka bermain di sekitar rumah pakleknya (pamannya) di pertigaan Jalan Ahmad Yani dan MT Haryono. Keengganan Jokowi kecil bergaul bersama anak sebaya di sekitar rumahnya, karena dia kurang suka pada teman – teman sebaya tetangganya yang selalu memanggilnya “Joko Klemer”.

Ejekan “Joko Klemer” diberikan teman – temannya karena penampilan Jokowi yang kayak perempuan atau kebanci – bancian. Perilaku ‘agak menyimpang’ dari Jokowi ini dapat dimaklumi karena semua adik Jokowi adalah perempuan. Masing – masing bernama Iit Sriyanti, Hidayati dan Titik Ritawati. Ketiga adik perempuannya ini menjadi teman seharian Jokowi semasa kecil hingga remaja di Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta.

Karena ejekan “Joko Klemer” dari teman sebaya dan tetangganya itu, Jokowi atau Mas Joko jarang sekali bergaul di lingkungan tempat tinggalnya RT 03/14 dan lebih sering bermain di rumah Miyono pamannya di Jalan Ahmad Yani persis simpang jalan MT Haryono, Surakarta (Solo).

Tim Investigasi mohon pamit pada Pak Yuli Susanto setelah berbincang – bincang seputar diri Jokowi dan istrinya Iriana. Pak Yuli menawarkan diri mengantar kami ke rumah Jokowi yang berjarak hanya ratusan meter dari rumah Pak Yuli yang di gang bantaran kali Pepe, Munggung itu. Tawaran itu ditolak halus oleh tim, keterangan dari Pak Yuli Susanto sudah cukup jelas sebagai pedoman untuk mencari rumah Pak Widjiatno, ayah kandung Joko Widodo. Pak Yuli sebelumnya juga sudah berbaik hati menggambar denah lokasi rumah Widjiatno. Coretan itu disimpan tim, sekedar berjaga – jaga untuk dipergunakan bilamana perlu.

Meski menolak tawaran Pak Yuli mengantar ke rumah asal muasal dan tempat Joko Widodo dibesarkan, tim tak kuasa menampik ketika Yuli turut mengantar tim menyusuri gang keluar dari pinggiran bantaran kali Pepe, berbelok ke kiri hingga sampai di mulut gang simpang jalan Ahmad Yani. Dari depan mulut gang bantaran kali Pepe itu, persis di seberang jalan itu tampak rumah kediamanan Miyono, pengusaha Meubel pemilik CV Roda Jati, paklek atau adik almarhum Widjiatno ayah kandung Joko Widodo.

Rumah Miyono terlihat menonjol dibandingkan rumah – rumah lain di sekitarnya. Rumah berwarna krim itu sangat besar dan tertutup tembok cukup tinggi yang menjadi penghalang pihak luar untuk melihat ke sisi dalam rumah. Tim investigasi menyeberangi jalan Ahmad Yani untuk mendekati rumah dan mengintip ke dalam halaman rumah yang cukup luas itu. Terlihat 4 (empat) mobil mewah berada di garasi mobil yang dibangun di sisi kanan halaman rumah.

Di sebelah kanan rumah itu, terdapat sebuah rumah yang dibatasi tembok tunggal dan pagar yang sama model bentuk dan warna catnya dengan rumah Miyono. Menurut pedagang warung kopi di seberang jalan depan rumah Wiyono, pemilik rumah yang berdempetan dengan rumah besar Miyono itu, juga adalah milik keluarga Miyono. Kemungkinan rumah itu milik anak Miyono yang sudah berkeluarga, mengingat bentuk rumah, pagar dan catnya semua sama dengan rumah Miyono. Rumah sebelah itu luasnya sekitar tiga perempat luas rumah Miyono dan di depan rumah terpampang plank 1 x 1/2 meter bertulisan “Menjual Berbagai Jenis Oleh – Oleh Dari Tanah Suci – Mekah”.

Tim investigasi mencoba menengok ke sisi dalam kedua rumah yang mirip bentuk, model dan warna catnya itu. Sepi. Tidak terlihat seorang pun di dalam ke dua rumah itu. Hanya jejeran mobil mewah parkir di garasi halaman rumah. Menurut, penjual warung kopi di seberang jalan rumah, sebulan terakhir ini penghuni rumah jarang terlihat di dalam rumah. Hanya petugas pengamanan berseragam yang sesekali terlihat berada di dalam pos penjagaan yang terletak di sisi kiri rumah utama, persis di bagian depan dalam pintu masuk rumah.

Rencana tim investigasi masuk ke dalam rumah Miyono yang terletak persis di pertigaan Jalan Ahmad Yani – MT Haryono itu kandas karena tak seorang pun dapat dimohonkan izinnya dan tak terlihat tanda – tanda penghuni bangunan besar yang cukup mewah itu ada di dalam rumah.

Dengan menumpang kembali taksi bandara yang masih setia menunggu, dari depan rumah Miyono, tim bergerak meluncur ke rumah Widjiatno di kawasan Tirtoyoso, Manahan. Sesuai petunjuk Pak Yuli, rumah itu berada di sebelah kiri jalan Ahmad Yani. Setelah melewati dua pertigaan kecil, tim investigas tiba di pertigaan jalan persis di depan Pool Bus Damri. Tim meminta supir berbelok ke kiri jalan yang menuju ke arah stadion Manahan Solo itu. Seratus meter dari pertigaan jalan masuk tadi, ada persimpang tiga lagi. Kami turun dari taksi dan berjalan kaki menelusuri satu per satu rumah di sekitar itu sembari mencari – cari warga yang dapat diminta informasinya mengenai rumah keluarga Widjiatno, ayah kandung mantan walikota Solo, Joko Widodo.

Sasaran atau target utama tim investigasi adalah warga Tirtoyoso yang berusia di atas 50 tahun, yang potensial merupakan bekas teman sepermainan Jokowi dan atau mengenal persis siapa dan bagaimana Jokowi sewaktu belia. Melalui penjaga warung kecil di depan salah satu rumah warga, kami mendapat informasi rumah lama keluarga Widjiatno persis di belakang salah satu rumah warga yang saat itu terlihat ramai karena sedang berlangsung acara ibadah kebaktian Minggu. Kami segera mendatangi rumah warga yang hanya berjarak 30 meter dari warung kecil itu.

Kebetulan acara ibadah Kebaktian Minggu sudah selesai dan suasana di dalam rumah terdengar riuh dengan suara tawa dan perbincangan jamamaah. Setelah mengucapkan salam dan menyapa sebagian tamu yang duduk di teras depan rumah itu, kami dipersilahkan masuk ke halaman rumah dan dipersilahkan dengan hangat duduk di teras oleh tuan rumah, seorang ibu lewat paruh baya yang berusia sekitar 50 tahun. Setelah berbasa basi sebentar, kami bertanya tentang lokasi rumah Pak Widjiatno, ayah kandung Gubernur DKI Jakarta, yang sekarang sedang mencalonkan diri jadi presiden Indonesia.

Dari keterangan Ibu Soenarso, tuan rumah acara kebaktian itu, kami mendapatkan informasi bahwa rumah keluarga Joko Widodo persis berada di belakang rumahnya. Sisi belakang rumah keluarga Sunarso itu berdempetan dengan sisi belakang rumah keluarga Widjiatno yang menghadap ke jalan besar atau jalan raya Ahmad Yani.
Menurut Bu Sunarso dan para tamu yang hadir di rumah itu, keluarga Widjiatno sudah cukup lama tidak menempati rumah miliknya karena sudah pindah ke daerah Sumber, yang berlokasi cukup jauh, sekitar 4 kilometer dari rumah pertama mereka. Rumah keluarga almarhum Widjiatno itu sekarang dihuni oleh orang lain yang diduga masih merupakan kerabat dan ditugaskan khusus untuk menjaga rumah itu.

Salah seorang tamu di rumah Keluarga Soenarso, yang bernama Pak Wiyono mengaku mengenal baik almarhum Widjiatno, ayah kandung Jokowi. Pak Wiyono yang berusia 78 tahun itu adalah tetangga dekat eyang atau kakek kandung Jokowi yang merupakan lurah di Kragan, Karanganyar, Surakarta.

Dari keterangan Wiyono, tim mendapat informasi bahwa kakek Jokowi dijuluki “Lurah Dongkol” karena menjabat sebagai lurah selama puluhan tahun dan tidak pernah diganti hingga meninggal dunia. Wiyono mengenal baik ayah kandung Jokowi hingga sekitar tahun 1980an. Dia jarang bertemu ayah kandung Jokowi itu sejak Widjiatno pindah dari rumah ayahnya di Kragan, ke rumah barunya di Tirtoyoso, Manahan Solo.

Tim investigasi sayangnya tidak bisa lama berbincang dengan Pak Wiyono karena terus didesak oleh Bu Soenarso untuk segera menjumpai Pak Margono, mantan ketua RT 03 yang sejak tahun 1990 hingga sekarang menjabat selaku ketua RW 14, Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta. Menurut Bu Soenarso, Pak Margono adalah orang yang paling tahu dan mengenal keluarga Widjiatno dan Jokowi karena sejak tahun 1977, Margono sudah menjadi warga RT 03 dan menjabat Ketua RT sejak tahun 1983.

Pak Margono, sesepuh warga Tirtoyoso, mantan ketua RT 03/14 dan sekarang menjabat ketua RW 14 Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta.
Setiba di depan rumah tinggal Pak Margono, tim mengucapkan salam dan menyerukan nama Pak Margono. Rumah berpagar besi cat hijau itu terlihat sepi. Pintu pagar tergembok, namun pintu dan jendela rumahnya terbuka, menandakan ada penghuni di dalamnya.

Sekitar du menit menunggu, muncul keluar seorang tua dengan senyum ramah mempersilahkan masuk sembari bergegas membuka gembok pagar rumah. Kami pun kemudian masuk dan dipersilahkan duduk di kursi di teras rumah Ketua RW itu. Pak Margono menjelaskan rumahnya terlihat sepi karena anak – anaknya sudah berkeluarga dan pindah ke kota lain.

Setelah memperkenalkan diri, tim mulai bertanya dan mengorek informasi tentang keluarga almarhum Widjiatno dan fakta – fakta seputar kehidupan Joko Widodo alias Jokowi.

Pak Margono menjelaskan bahwa tim kami ini adalah tamu kedua yang mendatangi rumahnya dan bertanya – tanya tentang keluarga besar Jokowi. Sebelum kami, Pak Margono dikunjungi wartawan dari Solopos. Beliau menyatakan keheranannya kenapa informasi atau berita yang beredar tentang diri Jokowi dan keluarganya sama sekali berbeda dengan kenyataan sebenarnya.

Pak Margono adalah pensiunan guru PNS. Dia dan keluarga pindah, menjadi warga RT 03/RW 014 Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta (Solo) sejak tahun 1977. Dia mengenal baik hampir semua warganya, termasuk Jokowi yang terakhir datang ke rumahnya sekitar setahun lalu dalam rangka meminta surat pengantar Ketua RW untuk suatu keperluar Gibran Rakabuming, anak tertua Jokowi.

Tim investigasi memulai pertanyaan dengan meminta konfirmasi apakah benar rumah di Jalan Ahmad Yani, persis di depan pool bus Damri adalah rumah alm Widjiatno, ayah kandung Joko Widodo. Pak Margono membenarkan informasi itu dan menegaskan bahwa hingga sekarang ini, rumah itu tetap masih merupakan rumah milik keluarga besar Joko Widodo.

Ketua RW 14 Manahan Solo itu, membantah jika disebutkan rumah alm Widjiatno itu telan dijual. Menurutnya, jika rumah itu sudah dijual, tentu sebagai Ketua RW, pihaknya mengetahui secara pasti. Mengingat setiap transaksi jual beli rumah harus melampirkan surat keterangan dari Ketua RW setempat. Menurut beliau, rumah bekas kediaman keluarga Jokowi itu sekarang ditempati oleh orang lain, diduga masih merupakan kerabat keluarga Jokowi.

Pak Margono menegaskan bahwa Joko Widodo tidak pernah memiliki nama kecil Mulyono atau Mulyatno. Dari dulu nama Joko Widodo adalah Joko Widodo, biasa dipanggil Mas Joko.

Mengenai agama Joko Widodo dan keluarganya, sesuai catatan RT dan RW serta KTP yang diterbitkan kelurahan Manahan, kecamatan Banjarsari, Surakarta, agama Joko Widodo adalah Islam. Meski begitu, Pak Margono mengaku seumur hidupnya selama tinggal di Tirtoyoso, Manahan, Joko Widodo tidak pernah terlihatnya mengerjakan Shalat sebagaimana lazimnya umat islam.

Keterangan Margono dan tetangga Jokowi itu menjawab pertanyaan besar mengenai agama Jokowi selama ini. Jokowi beragama Islam tapi dipastikan baru akhir – akhir ini dia mengerjakan shalat. Terbukti dengan ketidakpahaman Jokowi mengenai tata cara bersuci (berwudhu) dan tata cara shalat berjamaah.

Ketika sedang kampanye pilkada DKI Jakarta tahun 2012 lalu, Jokowi sempat diberitakan berbagai media salah dalam melaksanakan wudhu ketika hendak shalat Jumat di sebuah mesjid kelurahan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, di mana setelah membasuh muka, Jokowi langsung membasuh kaki.

Demikian juga ketika Jokowi menjadi imam dalam shalat zuhur berjamaah, Jokowi menjaharkan (mengeraskan suara) ketika membaca surat al fatihah. Disangkanya, adab shalat zuhur sama dengan shalat Jumat.

Sebuah pernyataan menggelikan juga dilontarkan Jokowi ketika diminta untuk jadi imam shalat berjamaah bersama Jusuf Kalla minggu lalu. Jokowi yang diminta jadi imam oleh Jusuf Kalla, menjawab, ” Saya kira Pak JK tadi berwudhu”. Pernyataan Jokowi itu sempat membingungkan JK dan orang – orang yang mendengarnya.

Jokowi atau Mas Joko juga sangat jarang bergaul dengan tetangga atau bermain dengan teman – teman sebayanya di sekitar rumah tinggalnya. Joko tidak pernah ikut terlibat dalam kegiatan remaja, Karang Taruna dan kegiatan – kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya di kawasan Tirtoyoso, Manahan.

Ketika ditanya pendapat beliau, kenapa atau apa kira – kira yang menjadi alasan Joko enggan bergaul dengan tetangga sekitarnya, Pak Margono menjawab dirinya tidak tahu persis.

“Saya tidak tahu persis kenapa. Setahu saya, Joko itu anak rumahan. Kegiatan masa remaja mas Joko hanya di rumah dan sekolah. Joko lebih sering terlihat bermain – main dengan adik – adinya yang semuanya wanita,” jelas Margono kepada tim investigasi pada hari Minggu 25 Mei 2014 lalu.

Mengenai tudingan bahwa Joko Widodo itu keturunan cina, dibantah oleh Pak Margono. “Itu tidak benar. Almarhum Widjiatno atau sekarang disebut orang sudah diganti dengan nama panggilan Noto Mihardjo adalah pribumi asli. Wong Jowo kok. Eyang Kakung (eyang laki – laki) Joko itu lurah Kragan, Karanganyar. Ga mungkin jadi lurah tempo dulu kalau beliau itu cina,” tegas Pak Margono. Dia heran tak habis pikir kok ada tudingan Jokowi dan keluarganya adalah keturunan cina.

Latar belakang Jokowi yang diberitakan miskin atau dari keluarga tidak mampu, juga dipertanyakan Pak Margono. Dia tidak mengerti kenapa bisa muncul berita itu. Ayah Joko Widodo bernama Widjiatno termasuk pengusaha meubel yang sukses, meski pada saat itu belum sesukses Jokowi ketika mengambilalih dan mengelola usaha peninggalan ayahnya.

Dengan lancar dan yakin, Pak Margono menerangkan bahwa Widjiatno yang dikenalnya baik itu masih hidup atau belum meninggal dunia ketika Jokowi menikah dengan Iriana. Pak Margono bahkan menjelaskan dirinya sempat berfoto bareng bersama Pak Widjiatno ketika pesta perkawinan Joko Widodo – Iriana dilangsungkan. Sayangnya, ketika tim investigasi meminta diperlihatkan foto tersebut, Pak Margono yang sudah berusaha mencarinya, gagal menemukan foto itu. Ternyata, album foto – foto perkawinan Joko Widodo yang diselenggarakan secara cukup mewah pada jamannya itu, terbawa oleh putra Pak Margono yang sekarang tinggal di Tegal, Jawa Tengah. Beliau berjanji akan memintanya kembali agar dapat diperlihatkan ketika kami mampir lagi ketika melakukan investigasi tahap kedua pada bulan depan.

Rasa penasaran terhadap latar belakang kehidupan Jokowi membawa langkah tim investigasi menuju lokasi pabrik PT. Rakabu Sejahtra yang didirikan Jokowi pada tahun 2009 bersama Jenderal Purn. Luhut Binsar Panjaitan. Belum diketahui pasti kapan persisnya dan apa sebabnya terjalin hubungan erat antara Jokowi dengan Luhut Binsar Panjaitan.

Dari data yang ditemukan, Luhut dan Jokowi sepakat mendirikan perusahaan bersama di mana Jokowi menjadi pemegang saham mayoritas sebesar 51% dengan setoran modal Rp 16,19 miliar atas nama anaknya Gibran Rakabuming yang saat itu baru berusia 20 tahun. Sedangkan Luhut tercatat sebagai pemegang saham minoritas sebesar 49% dengan setoran modal Rp 15,5 miliar pada PT Rakabu Sejahtra. Kemitraan usaha Jokowi dan Luhut Panjaitan ini entah apa sebabnya selalu disembunyikan atau dirahasiakan mereka dari publik.

PT Rakabu Sejahtra memiliki pabrik yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah. PT. Toba Sejahtra memiliki saham minoritas dalam pabrik yang memproduksi berbagai furnitur olahan kayu dalam bentuk rangka pintu, lantai, dan lain-lainya ini. Produk-produk tersebut banyak dijual untuk pasar ekspor. Pabrik dan gudang PT Rakabu ini tercatat dua kali terbakar pada tahun 2012 lalu. Kebakaran pertama pada tanggap 26 Juli 2012 dengan kerugian sekitar Rp 400 juta dan kebakaran kedua pada tanggal 12 September 2012 dengan kerugian ditaksir Rp 80 juta. Masing – masing penyebab kebakaran tersebut hingga kini masih misterius.

Tak pelak lagi, Luhut Panjaitan adalah tokoh yang selama ini menjadi mentor dan pembimbing Jokowi. Sesuai dengan tulisan yang pernah dipublikasikan majalah DETIK pada tahun 2012 lalu, Luhut adalah orang yang membujuk Jokowi agar bersedia mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Berdasarkan informasi yang kami terima, sudah sejak lebih 3 tahun tahun lalu Jokowi dipersiapkan sejumlah jenderal yang bergabung di PT Toba Bara Sejahtera, perusahaan yang didirikan Luhut dan sejumlah pensiunan jenderal, untuk digadang – gadang menjadi Gubernur DKI Jakarta dan Presiden RI.

Untuk memuluskan rencana itu, Luhut meminta anggota Tim Begawan, lembaga kajian bentukan Luhut, untuk melakukan survei terkait wacana pengusungan Jokowi sebagai cagub di Pilkada DKI Jakarta. Ternyata, Jokowi mendapat dukungan berarti dari responden.

Luhut diketahui sering mengundang Jokowi datang ke lantai 17 gedung Wisma Bakrie 2 Jalan HR Rasuna Said yang merupakan kantor PT Toba Bara Sejahtera, perusahaan yang didirikan Luhut bersama beberapa pensiunan jenderal TNI. Dalam setiang kesempatan datang ke kantor Luhut, mereka berdiskusi dengan para pensiunan jenderal kolega Luhut, antara lain Jend (Purn) Fachrul Razi mantan Wakil Panglima TNI , mantan Sekjen Dephan Jend (Purn) Jhoni Lumintang, mantan Kodiklat TNI Letjen TNI (Purn) Sumardi, Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Mayjen TNI (Purn) Zaenal Abidin, mantan Ka BAIS Mayjen (Purn) Ansyori Tadjudin. Jadi sebenarnya, Jokowi ini sudah lama dipersiapkan menjadi ‘proxy’ sejumlah mantan jenderal yang ingin berkuasa melalui Jokowi.

Bagaimana keterlibatan James Riady, Edward dan Edwin Suryawidjaja, Hartono, Antony Salim, Tommy Winata dan hampir seluruh konglomerat tionghoa, serta peran strategis Stanley Berhard Greenberg sang ahli pollster dan konsultan politik nomor satu dunia dalam pemenangan Jokowi pada pilkada DKI Jakarta dan dukungan penuh mereka terhadap Jokowi sebagai capres pilpres 2014.

Benang merah keterlibatan Robert Budi Hartono (pemilik grup usaha Bank BCA dan Rokok Djarum, keluarga terkaya No. 1 di Indonesia versi majalah Forbes) dan keluarganya (Viktor, Martin dan Armand Hartono) dalam mendukung Joko Widodo menjadi capres boneka terlihat jelas pada kolusi antara Jokowi dengan salah satu perusahaan PT Loka Niaga Adipermata (salah satu perusahaan milik keluarga Hartono) di proyek pengadaan reklame Videotron Manahan, Solo, pada tahun 2008 lalu.

Surat dari PT Loka Niaga Adipermata (LNA) kepad Walikota Solo Joko Widod pada tanggal 15 Desember 2008 tentang permohonan kesediaan LNA mengikuti lelang proyek Reklame Videotron langsung diberi disposisi oleh Jokowi untuk segera dijawab dan diberi atensi khusus oleh Kadispenda Solo Budi Suharta. Dan pada tanggal 19 Desember 2008, Kadispenda Solo mengirim surat balasan kepada LNA perihal Rekomendasi Untuk LNA didaftarkan sebagai Peserta Lelang Terdaftar pada Pemerintah Kota Solo.

Kolusi Jokowi dan Hartono (LNA) itu menghasilkan keputusan LNA sebagai satu – satunya peserta lelang VIDEOTRON dan dinyatakan sebagai pemenang lelang, dengan melanggar semua aturan perundang – undangan yang berlaku.

Bukti kedua keterlibatan keluarga Hartono dalam penggalangan dukungan terhadap Jokowi sebagai presiden boneka, terlihat pada saat Pilkada gubernur DKI Jakarta di mana staf Hartono di Bank BCA yaitu Kevin Wu bersama Benny Chandra Ketua Persatuan Tionghoa Indonesia, Lia Angraeni utusan Antoni Salim (Indofood / Salim Grup), Jhonny Liem Ketua Asosiasi Pengusaha Elektronik Indonesia, Hermawi Taslim, Rudi Hartono dan sekitar 50 pengusaha cina Indonesia, pada 15 September 2012 berkumpul di Panini Cafe, Kuningan, Jakarta Selatan dalam rangka penggalangan dana tambahan untuk pemenangan Jokowi pada Pilkada Gubernur DKI Jakarta.

Pertemuan ini adalah pertemuan ketiga, setelah sebelumnya mereka juga berkumpul dan telah mengumpulkan uang ratusan miliar rupiah untuk membantu pemenangan Jokowi.

  1. Muchtar Riady, James Riady, John Riady (Keluarga besar Riady)

Keterlibatan keluarga besar Riady pendiri dan pemilik Grup Lippo dan Grup First Media pada rencana menjadikan Joko Widodo sebagai capres boneka berawal dari permintaan Luhut Panjaitan cs kepada James Riady untuk mempertimbangkan Jokowi sebagai calon presiden yang dapat didukung karena profil Jokowi sangat sempurna dalam memperjuangkan kepentingan mereka terkait pengembangan bisnis, politik dan agama (kristen) di Indonesia.

Peran James Riady sangat penting karena status James Riady sebagai agen intelijen China (sama seperti Ayahnya : Muchtar Riady), dan sekaligus merupakan teman karib Bill Clinton (mantan presiden AS) serta anggota paguyuban elit Arkansas Connection, di mana Bill dan Hilary Clinton sebagai tokoh utamanya di samping beberapa elit politik AS, seperti John Kerry (Menlu AS), Rahm Emmanuel (Kepala Staf Gedung Putih) Stanley Berhard Greenberg (konsultan politik nomor 1 dunia) dan lain lain sebagai anggota Arkansas Connection.

Keberhasilan Luhut Panjaitan dan Hendropriono menarik James Riady menjadi pendukung utama Jokowi memberikan kekuatan yang luar biasa untuk mewujudkan tujuan mereka : Jokowi sebagai capres boneka.

Melalui James Riady, Greenberg dapat dilibatkan menjadi konsultan politik Jokowi, dan para konglomerat cina Indonesia termasuk para konglomerat koruptor BLBI dan buronan Pemerintah RI. Konglomerat – konglomerat koruptor BLBI di Singapura telah menyumbang Jokowi untuk pemenangan pilkada DKI sebesar US$ 50 juta (Rp 600 miliar) dalam dua tahap.

Luhut Panjaitan cs juga berhasil menarik keluarga Suryawidjaya (mantan orang terkaya nomor 2 di Indonesia) untuk bergabung bersama mereka mendukung capres boneka Jokowi. Keberhasilan ini sangat berarti karena ada jaminan logistik (uang) dan jaringan media.

Dan tidak kalah penting adalah bergabungnya Sang Taipan, Toako (Kakak Besar) para konglomerat cina Indonesia yakni Antoni Salim (putra Liem Sioe Liong, Salim Grup, mantan konglomerat terkaya Nomor 1 di Indonesia).

Sinergi hampir seluruh kekuatan politik dan bisnis komunitas cina Indonesia membuat Jokowi saat itu dijuluki “unstoppable man”. ini juga yang akhirnya mengantarkan para elit PDIP bekerjasama dengan Partai Komunis China (PKC) melalui program studi banding ke China yang difasilitasi oleh James Riady pada tahun 2012 dan 2013 lalu. Sejumlah elit PDIP belajar ke PKC China sebelum akhirnya dihentikan karena terbongkar ke publik dan mendapat banyak kecaman dari rakyat Indonesia.

Kolaborasi komunitas cina Indonesia kemudian menjadi hampir sempurna ketika kelompok bisnis dan jaringan Tommy Winata juga menyatakan bergabung dengan komunitas cina ini, mendukung rencana besar konspirasi global menjadikan Joko Widodo sebagai capres boneka mereka.

Unsur konspirasi global, selain PKC China, arkansas connection, juga terdapat China Connection Dunia yang menyatakan mendukung Jokowi. Salah satunya, adalah Thaksin Shinawarta yang menyatakan dukungan kepada Jokowi melalui mantan penasihat politiknya Liem Siok Lan atau Justani, mantan aktivis ITB dan istri mayjen purn Suarip Kadi yang juga diketahui terkoneksi dengan CIA.

Rencana pengambilalihan kedaulatan Indonesia (neokolonial) komunitas cina Indonesia, atau “penjajahan model baru” terhadap NKRI melalui Presiden Boneka Jokowi ini benar – benar sangat mengkhawatirkan masa depan dan keselamatan negara Indonesia.

Secara ringkas, dapat dituangkan skema rencana mereka seperti gambar di bawah ini :

Tak kurang dari Menlu AS John Kerry, Menlu Inggris William Hague, Ketua Hubungan Dagang Indonesia – AS David R Greenberg dan Duta Besar Israel untuk Indonesia, untuk menyatakan dukungannya kepada Jokowi. Sementara itu, Dubes AS untuk Indonesia terus menerus mengamati perkembangan politik dan memberikan laporan ke Washington DC terkait rencana besar konspirasi global menjadikan Jokowi sebagai capres boneka.

Joko Widodo terpilih sebagai tokoh yang akan diorbitkan konspirasi global untuk menjadi presiden boneka dikarenakan profil dan karakter Jokowi sangat ideal, serta diyakini setia dan bersedia sepenuhnya menjalankan dan mengamankan kepentingan negara – negara asing dan kelompok pendukungnya, bilamana dia terpilih menjadi presiden Indonesia.p

Profile dan karakter Joko Widodo berdasarkan penilaian pihak Asing, Aseng dan Antek (konspirasi global) sebagai berikut :

  1. Jokowi tidak memiliki sikap nasionalisme dan patriotisme
  2. Jokowi tidak mempunyai jiwa dan semangat setia dan bela negara
  3. Jokowi tidak punya visi dan misi terkait posisi dan sebagai jabatannya selaku pejabat negara.
  4. Jokowi telah terbukti sebagai sosok yang patuh, loyal, nurut dan bersedia menjalankan apa pun yang diarahkan oleh para pembina / mentornya, sejak tahun 2008 lalu.
  5. Jokowi merupakan aset yang sempurna bagi para sponsornya
  6. Jokowi bersuku jawa yang secara tidak resmi dianggap sebagai calon ideal sebagai presiden RI
  7. Jokowi merupakan tokoh sempurna untuk menjalankan skenario yang telah disiapkan oleh Stanley Benhard Greenberg.
  8. Jokowi tidak punya agenda atau kepentingan pribadi tersembunyi yang berbeda atau berlawanan dengan kepentingan para sponsor, pendukung dan donaturnya.
  1. Jokowi merupakan wayang sempurna di mata para dalangnya.

Bagaimana dengan tudingan bahwa Jokowi terlibat korupsi proyek pengadaan bus Trans Jakarta dan bus reguler tahun anggaran 2013 bernilai total Rp 1.5 triliun? Mari kita ungkap fakta – fakta hukumnya.

  1. Michael Bimo Putranto pemilik perusahaan yang ditunjuk sebagai pemenang dalam lelang proyek pengadaan bus TJ tersebut adalah pengusaha baru dikenal di lingkungan pemda DKI Jakarta. Sebelum tahun 2012 tidak ada pejabat DKI Jakarta mengenal Bimo Putranto, apalagi sampai menjadi rekanan dan ditunjuk sebagai pemenang lelang proyek pengadaan di Pemda DKI Jakarta.
  2. Berdasarkan kesaksian Udar Pristono mantan Kepala Dishub DKI Jakarta pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) disebutkan bahwa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, pada tahun 2012 pernah memanggil Udar ke ruang kerja Gubernur. Setiba di ruang kerja Gubernur, Jokowi memperkenalkan Bimo Putranto kepada Udar. Selanjutnya, Udar diminta bantuannya oleh Jokowi untuk mengamankan kepentingan Bimo Putranto yang terkait dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
  3. Joko Widodo pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2013 mengunjungi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dalam rangka menyambut kedatangan 86 Bus Impor ex China, yang merupakan bagian dari total 657 unit Bus Impor dari China yang dipesan oleh Bimo Putranto, sahabat dekat dan timses Jokowi sejak di Solo dulu.
  4. Jokowi selaku Gubernur Jakarta pro aktif terlibat dalam permohonan pembebasan bea masuk dan penghapusan pajak penjualan barang mewah atas 656 bus (310 unit bus untuk Trans Jakarata dan 346 unit Bus Reguler) hingga nol persen, yang diajukan Jokowi secara resmi ke Menteri Keuangan.
  5. PT Ifani Dewi yang direkomendasikan Jokowi untuk ditunjuk sebagai pemenang lelang pengadaan bus TJ dan Reguler ternyata adalah perusahaan fiktif. menurut informasi yang diperoleh dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), PT Ifani Dewi tercatat memiliki alamat di Jalan Tebet Barat Dalam Raya Nomor 153 A, Jakarta Selatan. Saat dilakukan pencarian langsung ke lapangan, ternyata nomor 153 A tidak tercatat di wilayah Jalan Tebet Barat Dalam Raya. Ketika akhirnya ditemukan, kantor PT Ifani Dewi hanya berupa bangunan kecil dihuni dua orang pegawai.
  6. Berdasarkan perkembangan pelaksanaan lelang, ada lima perusahaan yang menjadi pemenang.
  7. PT Korindo Motor dengan pabrikan China Yutong Bus, nilai kontrak Rp 113,856 miliar yang menggunakan nomor bus TJ 01-30.
  8. PT Ifani Dewi dengan pabrikan China Ankai, nilai kontrak Rp 110,520 miliar dengan nomer TJ 31-60
  9. PT Saptaguna Dayaprima dengan pabrikan China Ankai, nilai kontrak Rp 108,745 miliar Nomor bus TJ 61-90.
  10. PT Mobilindo Armada dengan pabrikan China Zhongthong Bus, nilai kontrak Rp 110,265 miliar
  11. PT Putriasi Utama Sari dengan pabrikan China BCIBus, nilai kontrak Rp 40,536 miliar.

Fakta Selanjutnya : Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, setiap proyek yang bernilai di atas Rp 100 miliar harus diketahui dan ditandatangani gubernur.

Sementara itu, Michael Bimo Putro diketahui sebagai importir Bus yang didatangkan dari China tersebut, dan merupakan salah satu dari perusahaan pemasok bus kepada lima perusahaan yang telah ditetapkan sebagai pemenang lelang di Dishub DKI Jakarta.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Azas Tigor Nainggolan mengatakan, Michael Bimo Putranto pernah mewakili Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menghadiri seminar tentang penerapan sistem bus rapid transit(BRT) di Guangzhou, China, 31 Oktober-3 November 2013.

Menurut Tigor, Bimo Putranto merupakan pria yang dekat dengan Jokowi. Ia merupakan makelar proyek pengadaan bus berkarat transjakarta. Berdasarkan pengakuan Bimo dan Udar Pristono, Bimo disebutkan sebagau utusan Gubernur Jokowi dan kenal dekat Pak Jokowi.

Sebelumnya, Bimo memang mengakui jika ia pernah berkunjung ke China menjelang akhir tahun lalu. Namun, kunjungan tersebut bukan dalam rangka berkunjung ke pabrik bus Ankai di Hefei. Ankai merupakan produsen bus transjakarta yang terletak di Hefei, Provinsi Anhui.

Bimo Putranto disebut – sebut telah memberikan mahar dan fee pada PDIP, tim sosial media pro Jokowi dan putra sulung Jokowi, total sebesar Rp 40 miliar.

Meski demikian, hingga saat ini baru empat pelaku korupsi yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh kejaksaan agung. Joko Widodo, Bimo Putranto dan putra Jokowi, Gibran Rakabuming belum ditetapkan sebagai tersangka. Diduga karena terkait agenda pilpres pada bulan Juli 2014 mendatang.

Note: Lebih jelasnya bisa langsung merujuk ke sumber aslinya:
http://yudisamara.com/2014/06/02/hasil-investigasi-jati-diri-jokowi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Juni 2014 in Islam

 

Tag:

Filosofi Sepeda, Sebuah Analogi Tugas dan Kewajiban

Apapun yang ada di dunia ini sebenarnya bisa di jadikan pelajaran bagi orang yang mau mengambilnya sebagai pelajaran. Seperti kata Pepatah orang Minang “Alam takambang jadi guru” yang kalau di Indonesiakan berarti “alam yang membentang luas jadi guru”.

Gambar

Alkisah, seorang ustadz abal-abal (maksudnya ustadz tradisional, tanpa gelar akademis!), memberikan nasihat kepada seorang ustadz yang bergelar akademis di belakang maupun di depan namanya. Dengan sangat bijak ustadz abal-abal ini menasihati ustadz akademis dengan filosofi sepeda. Sebab dengan gelar akademis setinggi apapun yang dia miliki, tak akan memberi pengaruh  apapun kepada kepada para muridnya apabila dia tidak bisa menghormati dan menghargai perjuangan para murid yang selama ini telah berjuang bersama-sama dalam menegakkan dakwah di bumi Allah ini.

Kisahnya, pada suatu malam terjadi dialog diantara komponen-komponen sepeda; Entah bagaimana pada awalnya, mendadak semua komponen sepeda dengan perasaan marah dan jengkel mengungkapkan jasa mereka masing-masing sehingga bisa menjadi wujud sepeda.

Berkata frame : “Kalau tidak ada aku, apa kalian bisa jadi sepeda ? Coba pikir, dimana kalian akan dipasangkan kalau tidak ada frame seperti aku.”

Dengan lantang perkataan frame dibalas oleh stang, ”Memang benar saya numpang sama kamu, tapi kalo saya gak ada, memang kamu bisa jalan?”

Tidak mau kalah berkata ban, ”Saya donk yang paling berjasa, kalau gak ada ban mana bisa anda-anda semua disebut sepeda.”

Dengan perasaan sedikit tersinggung berkata rims, ” Memang betul kalau gak ada ban kita memang gak bisa jalan sich, tapi kamu kan numpang sama saya.”

Mendengar temannya semakin ribut rantai pun tak mau kalah, dia pun berkata, ”Memang anda semua gak sadar ya, kalau tidak ada saya, kalian mau mengayuh apa?”

Dengan bijaksanan akhirnya rem berkata, ”Kalian semua memang berjasa, tanpa ada kalian tentu kita tidak bisa disebut sepeda. Tapi coba saudara pikir seandainya tidak ada saya, pasti kalian akan mati semua di jalan raya atau masuk jurang.”

Lalu berturut-turut  komponen-komponen lain menyebutkan jasa-jasa mereka, sehingga masing-masing komponen tersebut jadi tahu bahwa tanpa teman-teman yang ada di sekelilingnya, mereka tidak akan sempurna dikatakan sebuah sepeda.

Setelah mendengarkan argumen komponen-komponen lain, barulah mereka tahu jasa masing-masing komponen tersebut, lalu merekapun mencari-cari siapa yang tidak berjasa kepada sepeda. Akhirnya mereka melihat pentil yang kecil yang tersembunyi di dalam ban sepeda. masing-masing mereka mempertanyakan peranan pentil dalam dunia persepedaan. Karena lama berada di tempat tersembunyi dan lingkungan tempat dia berada selalu gelap serta tidak ada kawan yang menemani, pentil pun gagap, dia tidak tahu apa kontribusi dia terhadap dunia persepedaan (biasa, hidup terasing membuat si pentil jadi minder dan kuper). Karena pentil tidak bisa menunjukkan jasa-jasanya, akhirnya komponen sepeda yang lain sepakat kalau pentil tidak memberikan kontribusi apa-apa dalam dunia persepedaan karena kecil dan tersembunyinya. Dengan kesimpulan demikian merekapun menyuruh pentil untuk pergi dari dunia persepedaan, sebab dia tidak berguna.

Dengan sedih, malam itu pentil pergi dari tempat selama ini dia bersemanyam. Hatinya gundah gulana, kemana akan pergi dan apa yang bisa ia lakukan ketika tidak lagi bersama sepeda. Pekerjaan yang dia tahu selama ini hanyalah menahan angin agar tidak keluar dari ban sepeda. Dan sekarang dia terusir dari pekerjaannya. Tapi kalau dia bertahan, harga dirinya telah terinjak-injak oleh teman2nya yang merasa paling berjasa. Daripada harga diri terinjak-injak, lebih baik pergi menjauh,  agar tidak selalu mendapat hinaan. Seperti pepatah para pejuang kita dulu, ”Lebih baik berputih tulang, daripada berputih mata”.

Besok paginya, Tuan mereka -sang pemilik sepeda-  tidak jadi pergi bekerja membawa sepeda sebagai kendaraannya. sebab ketika hendak berangkat Tuan menemukan bannya kempes. Hingga dia memutuskan untuk naik oplet saja. Dan saat itulah baru komponen-komponen sepeda yang lain itu sadar, bahwa tanpa pentil yang kecil dan seperti tidak berguna itu, ternyata mereka tidak akan berarti apa-apa, sama sekali tidak berguna!

Kesimpulannya: Hargailah perjuangan (tugas, kewajiban, manfaat dan kegunaan) orang-orang yang bersama dengan Anda, baik dia itu bawahan Anda, teman-teman Anda, ataupun dia itu adalah murid dalam pengajian Anda. Sebab meski sekecil apapun kontribusi yang selama ini ia kerjakan, misal cuma membawakan minuman dan membersihkan meja Anda, yakinlah dia juga sangat berjasa pada Anda. (see original post).

Barangkali Anda Juga Tertarik Untuk Baca:

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 14 Mei 2012 in Islam

 

Tag:

Site Map Jarandawuk’s Blog’s

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Desember 2011 in Bukan Issu

 

CahNdeso dari Jarandawuk

Aku adalah anak desa yang bodoh. Pepatah mengatakan : “seperti katak dalam tempurung”. Nah, kira-kira -aku termasuk katagori ini. Sebab, aku sejak lahir lebih senang tinggal di desa, hidup di desa, dan -insya Allah- aku kelak akan dikuburkan di ‘gunung Cilik’ yakni Taman Pemakaman Umum yang ada di desaku.

Cita-citaku tidak muluk, hanya pingin punya anak-anak (gen-ku) yang mandiri, berprestasi, berguna bagi keluarganya, mampu memberikan miliknya bagi kemaslahatan di sekitarnya. Dan yang pasti, mereka kuharapkan jadi generasi yang bertaqwa pada Allah SWT.

Aku hanya ingin punya satu isteri, anak sebelas, dan cucu sembilan orang dari masing-masing anakku. Jadi jumlah cucuku = 99 orang. Setiap cucuku itu akan kuberi nama yang mengandung Asmaul Husnah. Dengan demikian aku akan dengan mudah mengingat nama para cucuku.

Itulah, cita-citaku. Mudah-mudahan Allah meridloi. Amin.

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Desember 2010 in Islam

 

Isteriku Mengira Aku Seorang Teroris…!

Tadi saat mendengarkan berita di Metro-TV dan TV-One, tentang penangkapan Abubakar Ba’asyir, Pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Solo, isteriku berkomentar :

“Masyaallah, Ba’asyir kok nggak kapok-kapoknya berurusan dengan pihak yang berwajib?” Aku tercenung sejenak, ternyata isteriku satu-satunya ini memperhatikan juga berita-berita di Televisi. Selama ini kupikir Yayangku ini hanya lihat sinetron dan entertaint info selebritis. Lalu dengan cepat otakku mengolah jawaban, dan dengan hati-hati aku menanggapinya, dengan harapan Yayangku tidak salah tafsir terhadap ucapanku:


“Kita jangan terlalu cepat menghujat Beliau, Dik,” ujarku kalem sembari menatap matanya, kami saling pandang sejenak -penuh makna! “Ketahuilah, Kangmas ini termasuk salah seorang pengagum Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, mahaguru Pondok Pesantren Ngruki,” lanjutku. Isteriku terpana, kulihat dari sinar matanya, penuh ketidak percayaan. Aku diam, kutunggu bibirnya bergerak, barangkali ada letupan kekagetan meluncur dari bibirnya yang kemerahan walau tanpa gincu sekalipun. Ternyata…:

“Jadi… Mas juga teroris?!”, ujarnya. Aku tersenyum, jawaban itu sudah kuduga sebelumnya. Aku menarik nafas berat dan panjang sebelum menjawab:

“Hmmm… jangan salah duga, Sayaaaang,” kuraih jemarinya, kuelus lembut, baru kulanjutkan, “Sesungguhnyalah, Kangmas sangat mengagumi keteguhan Ustadz Abu Bakar Ba’arsyir. Beliau seorang ulama yang berani menyuarakan apa yang seharusnya menurut al-Islam. Beliau, sekaliber Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah); dan kangmasmu ini sangat ingin memiliki tingkat keimanan seperti kedua Da’i  itu. Sayangnya, kangmas hanya seorang munafiq besar”.

“Tapi…tapi… Ba’asyir ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror, apakah Kangmas masih juga mengaguminya?” ujar isteriku.

“Sampai detik ini, iya. Kangmas tetap mengaguminya. Bahkan, andaikata kangmas punya kekuatan untuk membela Beliau, niscaya kangmas akan membelanya”, jawabku. Isteriku masih menatapku, tapi tangan kami sudah tidak lagi bersentuhan.

“Dik, kita kaum Muslimin adalah tetap muslimin. Itu bila kita ingin sungguh-sungguh menegakkan panji-panji Islam. Kita sesama muslim adalah bersaudara. Abu Bakar Ba’asyir kan belum diputus pengadilan sebagai teroris?” kataku.

“Tapi tempo hari dia pernah diadili dan dipenjarakan,” kata  isteriku lirih. Ada kekhawatiran dalam intonasi kalimatnya. Barangkali, dia takut aku  termasuk Putera Pertiwi yang siap melakukan teror di negeri ini.


“Betul, Beliau dulu pernah dipenjarakan, tapi kasusnya bukan menyangkut terorisme; melainkan kasus pemalsuan dokumen identitas beliau. Sedang kali ini, beliau ditangkap karena diduga….belum ditetapkan sebagai tersangka,” jawabku menjelaskan dengan harapan isteri tercintaku ini memahami posisi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Kemudian aku mencoba memberitahu dia, bahwa sebagai seorang muslim aku ini termasuk seorang munafiq. Tidak seperti Ustadz Ba’asyir atau Buya Hamka, yang berani berkata “benar” untuk sebuah kebenaran, dan mengucap “salah” untuk suatu kebijakan dan sikap yang menyalahi al-Islam, sekalipun untuk itu harus mengorbankan kebebasannya atau bahkan nyawanya.
Kendati munafiq, aku selalu berusaha untuk menjunjung sikap ksatria, menghormati orang-orang yang memiliki keimanan teguh dan kokoh. Serta senantiasa mencoba untuk tetap berpegang pada al-Qur’an dan al-Hadits. Dan, menurut keyakinanku terorisme tidak ada dalam kamus al-Islam. Jangankan teror, tipu muslihat yang licik pun tidak pernah dianjurkan. Agamaku menganjurkan, bahkan mewajibkan untuk menegakkan panji-panji Islam dan mempertahankan diri dari serangan bangsa manusia yang merongrong kemerdekaan kaum Muslimin dan eksistensi al-Islam.

Bila tertarik, baca juga :

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Agustus 2010 in Bukan Issu, Hukum dan Kriminal, Islam

 

Ribuan Balita Trenggalek Menyandang Gizi Buruk!

Foto : Kadis Kesehatan Trenggalek.

Prigibeach.com merilis berita yang mencengangkan! Bagaimana tidak, bila ternyata ada ribuan balita di Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, Indonesia,  kurang gizi atau dibawah garis merah. Indikasi tersebut terlihat dari perbadingan berat badan dan usia yang tidak ideal.  Bahkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes), 230 balita di antaranya kondisi mendekati gizi buruk, demikian prigibeach.com.. Kepala Dinas Kesehatan dr. Ubaidillah kepada wartawan membenarkan kondisi tersebut. Saat ini, seluruh balita yang masuk dalam garis merah mendapat penanganan serius dari pemerintah. Dengan cara pemberian makanan asupan gizi seperti susu formula dab biskuit. Walaupun demikian, Ubaidillah menyangkal tegas bila saat ini di Kabupaten Trenggalek terdapat balita yang mengalami gizi buruk.

“Kalau gizi boruk belum ada kasus,” ujarnya.
Dikatakan Ubed panggilan akrab Kadis Kesehatan Trenggalek, bahwa faktor yang menjadi penyebab masih adanya balita kekurangan gizi dan gizi buruk salah satunya masalah kemiskinan. Warga miskin yang kelas ekonominya rendah secara tidak langsung mempangaruhi daya beli orang tua untuk mencukupi kebutuhan nutrisi balitanya..
Faktor penyebab lain, diantaranya pendidikan orang tua yang masih rendah. Sehingga pengetahuan terhadap pentingnya gizi bagi balita mereka masih kurang. Contohnya, pemberian asupan gizi tidak tepat, serta enggan memeriksakan balita ke posyandu. Padahal di seluruh desa sudah ada Posyandu sebagai wadah aktivitas pencegahan  dini yang dilakukan Dinkes untuk memperkecil jumlah balita kurang gizi dan gizi buruk.
Lebih jauh dijelaskan Ubed, permasalahan yang muncul dilapangan, hingga saat ini prosentase balita yang di timbang ke posyandu hanya 65 persen. Dengan begitu masih ada sekitar 35 persen yang belum terpantau kesehatanya. Sekadar menambahkan, balita yang mengalami gizi buruk bisa di lihat dari fisiknya di tandai rambut jarang,tulang iga kelihatan,kulit keriput.

Sebuah ironi yang menyedihkan….. CahNdeso berdoa: Semoga MK (Mulyadi-Kholiq) dalam lima tahun ke depan dapat memberikan yang terbaik bagi generasi Kota Kripik Tempe ini. Amin…..

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Juli 2010 in Bukan Issu

 

Final Piala Dunia 2010: Aku Jagokan Spanyol!

Partai final Piala Dunia 2010 saya prediksi akan berlangsung menarik. Belanda maupun Spanyol sama-sama akan menyuguhkan sepakbola menyerang. Namun, dengan memperkuat lini tengahnya, Spanyol akan berusaha untuk menahan serangan Belanda. Di sisi lain, dengan lini depannya yang ovensif , saya sangat yakin Tim Matador akan berhasil mendobrak pertahanan Tim Oranye.


Belanda yang meraih poin sempurna pada babak penyisihan grup nampaknya berambisi memperpanjang rekor mereka. Setelah menghempaskan bekas juara dunia, Brasil dan Uruguay, kini Tim Oranye optimistis menumbangkan Spanyol. Wesley Sneijder dan kawan-kawan yang haus gelar siap tarung habis-habisan. Saya melihat, kepercayaan diri dari para pemain Belanda ini akan membuat mereka terjerembab dalam emosi yang tak terkendali.

Sementara Tim Matador yang dalam tiga tahun belakangan menunjukkan konsistensinya di setiap turnamen, akan menyuguhkan permainan menyerang. Penguasaaan dan aliran bola yang apik, umpan-umpan datar ditambah kecepatan dan keterampilan individu bakal jadi senjata andalan Spanyol. Seperti juga Belanda, La Furia Roha -julukan Spanyol- ingin menorehkan sejarah baru.

Sepanjang perhelatan piala dunia, baru pertama kalinya Spanyol lolos final. David Villa dan kawan-kawan berambisi untuk menyandingkan gelar juara Eropa pertamanya di tahun 2008 dengan gelar juara dunia. Pasukan asuhan Vicente del Bosque ini siap mematahkan kincir-kincir Belanda.

Partai final ini juga akan menjadi persaingan berburu top skor piala dunia antara David Villa dan Sneijder yang masing-masing mengemas lima gol. Selain mencatatkan juara baru, Piala Dunia 2010 juga menjadi yang pertama bagi tim Eropa merebut juara dunia di luar benuanya.

Bagaimanapun hebatnya Tim Oranye, saya akan tetap menjagokan Spanyol. Walapun anak saya, Ibarahim Maksum Amrullah, yang duduk di kelas I SMAN 2 Karangan, yang juga hobby bermain bola, menjagokan Belanda. Kemarin saya kalah melawan anak saya ini, saya menjagokan Brasil dan Argentina karena sentimen phsikologis pada Tim negara kapitalis; ternyata jago anak saya yang notabene tidak memfavoritkan tim Latino, menang telak.
Saya menjagokan Spanyol bukan karena Paul sang Gurita peramal telah memilih Spanyol. Kali ini, saya mempergunakan perhitungan mantab dengan menelusuri perjalanan Tim Matador selama berkiprah di benua Eropa dalam kurun waktu 3 tahun belakangan.

Berikut cuplikan hasil pertandingan yang saya CP dari Kompas.

FT Result
Paraguay Paraguay 5 ( 0 )
Jepang Jepang 3 ( 0 )
30 Juni 01:30 WIB FT Result
Spanyol Spanyol 1 ( 0 )
Portugal Portugal 0 ( 0 )
2 Juli 21:00 WIB FT Result
Belanda Belanda 2 ( 0 )
Brasil Brasil 1 ( 1 )
3 Juli 01:30 WIB FT Result
Uruguay Uruguay 5 ( 0 )
Ghana Ghana 3 ( 1 )
3 Juli 21.00 WIB FT Result
Argentina Argentina 0 ( 0 )
Jerman Jerman 4 ( 1 )
4 Juli 01.30 WIB FT Result
Paraguay Paraguay 0 ( 0 )
Spanyol Spanyol 1 ( 0 )
7 Juli 01.30 WIB FT Result
Uruguay Uruguay 2 ( 1 )
Belanda Belanda 3 ( 1 )
8 Juli 01.30 WIB FT Result
Jerman Jerman 0 ( 0 )
Spanyol Spanyol 1 ( 0 )
11 Juli 01.30 WIB FT Result
Uruguay Uruguay 2 ( 1 )
Jerman Jerman 3 ( 1 )
12 Juli 01.30 WIB Result
Belanda Belanda 0 ( 0 )
Spanyol Spanyol 0 ( 0 )
TOP SCORES
Player Goal
David Villa 5
Wesley Sneijder 5
Diego Forlan 5
Thomas Muller 5
Gonzalo Higuain 4
Robert Vittek 4
Miroslav Klose 4
Luis Suarez 3
Luis Fabiano 3
Landon Donovan 3
Lukas Podolski 3
Asamoah Gyan 3
Robinho 2
Arjen Robben 2
Carlos Tevez 2
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Juli 2010 in Bukan Issu

 

Tag: