RSS

Jer Basuki Mawa Bea

05 Jan

Pukul 20.15.44′ Rabu 31 Desember 2008 sahabatku Nuruddin Hasan, yang sekarang menjabat Ketua DPD PAN Kota Kediri sms begini “Bsk tgl 1 januari sore hr insyaallah sy ke tr.galek. Bila berkenan, sy ingin bs ktemu dg jenengan dan mister agus purwanto, mlm harinya ato selasa pagi.” (maksudnya mungkin Jum’at pagi, bukan Selasa) Segera aja aku balas, namun dengan halus aku menolak jika pertemuan dilangsungkan di rumahku. Aku merasa, tempat tinggalku “kurang pantas” untuk menjamu tamu sekelas dirinya. Jadi, kukatakan pertemuan di rumah mister Agus. Mister Agus adalah sahabat kami. Dia mantan wartawan/redaksi Suara Pembaruan dan Jayakarta, yang sekarang aktif sebagai ‘ghost writer’ bersama timnya di Jakarta. Kami bertiga di era 80-an adalah aktivis teater di Trenggalek.

Namun, pukul 17.06.11′ 1 Januari 2009, aku terima sms-nya lagi: “Mohon maaf, krn istri sy lg sakit kepala, mngkn baru bs ke t.galek, bsk pagi, krn itu, janji ktemu mlm ini dg berat hati ditunda. Semoga kami dimaafkn atas penundaan ini. Nuwun.” sms yang sama dikirim beberapa menit kemudian, dan aku sengaja tidak membalasnya. Nampaknya, pertemuan kami akan batal. Aku tidak membalas smsnya, karena bila pertemuan ditunda tanggal 2 Januari, aku tidak bisa. Sebab aku ada janji di Surabaya, bertemu dengan sahabatku Zul Nasution si-Batak dari Kotawaringin. Andai kukatakan alasanku ini, aku tidak ingin mister Nuruddin menganggap argumenku hanya bertujuan mengconter smsnya belaka.

Pada pukul 18.07.10′, mister Nuruddin ternyata sms lagi 2kali “Bos, akhirnya jd mlm ini ke galek. Akan Bnrngkt jam 18.45,mlm ini, krn itu Mngkn ktemu agak mlm, jam 21.00 aja, tdk apa2 tho ?”. Ba’da maghrib baru aku menjawab “Okay, gak apa2. masalahnya, besok saya harus ke s.baya. Kita ketemu di rumah agus saja. Maaf, terlambat balas”. Maka pada pukul 20.10, aku meluncur ke kota Trenggalek dengan menyandang tas berisi perlengkapanku dan pakaian untuk menginap selama 2 malam di Surabaya. Rencanaku, kami nanti akan “kongkow-kongkow” melepas rindu hingga subuh, kemudian aku langsung berangkat ke Surabaya.

Sesuai jadwal, mobil berselimut gambar mister Nuruddin (caleg dari PAN Kota Kediri), tiba di rumah orang tua mister Agus. Mister Nuruddin turun di kawal 2 ‘bodyguard’nya. Dan kami jadi bernostalgia. Bicara ngalor ngidul, mulai dari krisis ke krisis, harapan ke harapan,masalah-masalah internasional khususnya tentang agresi zionist Israel ke Palestina,hingga sukses yang diraih PAN dalam pilihan Walikota/Wakil Walikota Kediri, juga sampai pada masalah kekejaman dalam dunia politik.

Dari obrolan kami, kali ini ada poin yang kuanggap penting, yakni “jer basuki mawa bea”, dalam meraih sukses dibutuhkan biaya. Nampaknya fenomena ini memang tidak bisa dielakkan. Kami sependapat. Walaupun demikian, mister Agus dan aku, tetap saja tidak setuju bila paradigma ‘money politic’ dibiarkan berlanjut meracuni demokrasi dalam manefestasi perilaku politik masyarakat kecil. Karena efek domino yang ditimbulkan, akhirnya hanya akan berujung pada keterhambatan laju pertumbuhan tingkat kualitas hidup masyarakat secara mendasar dan berkepanjangan.
Ironisnya, justru masyarakat awam seakan menjembatani proses kelangsungan paradigma ini.

Tapi, ada satu hal (dan bagiku cukup menggembirakan!) yang ditegaskan oleh mister Nuruddin, bahwa dirinya sebagai anggota Komisi Anggaran DPRD Kota Kediri, tidak pernah menarget birokrat atau lembaga terkait dalam memutuskan suatu anggaran, seperti rumor yang ramai beredar di beberapa kabupaten. Menurutnya, tindakan itu sangat hina dan melenceng dari semangat reformasi. Apa yang didapat oleh anggota dewan dari pemkab/pemkot sudah lebih dari cukup. Juga termasuk untuk menutupi biaya kampanyenya sewaktu masih jadi caleg.
Aku berpendapat penghasilan anggota legeslatif berbeda, tergantung pada kemampuan keuangan daerah masing-masing. Kediri Kota, kan jauh lebih kaya dibanding Pacitan atau Trenggalek. Faktor kedua, adalah kualitas manusianya (IQ, EQ, dan terutama SQnya). Sehingga manover trik perkaya diri masih dimungkinkan terjadi di semua lini pemerintahan.

Pukul 01.45 Jum’at dini hari, kami pamit pulang dari rumah orang tua mister Agus di Surodakan. Aku diantar mas Nuruddin ke terminal, dan langsung naik Pelita tujuan Surabaya. Di tengah perjalanan kami sms-an, ada beberapa yang perlu kucantumkan dalam catatan ini.

Nuruddin : Mas, akan lebih produktif kali smpyn focus pd satu target sasaran, ~jd penulis lepas sbg andalan penopang hidup. Penulis sbg main job ato ~jd penulis lepas hanya sbg sampingan, bkn sbg andalan penopang hidup, hanya sbg supporting job. ~mngkn hanya selintas saran & pikiran kaum tulalit sptku. ~sholta shubuh dulu ya? ~sdh sampai dimana bos skrng ini?

Aku : Trims, saran anda telah menambah wawasan dan akan jadi bahan pertimbangan. Maaf, tadi saya tidur. Skrg sdh di mojokerto. (dia sms aku sudah berkali-kali, dan baru aku jawab. kebiasaanku tidur di kendaraan ketika dalam perjalanan).

Nuruddin : ~semoga kita mampu menjadi terang di relung-relung kehidupan yang gelap gulita, ~semoga kita menjadi harapan di tengah terlampau banyaknya manusia yang hanya mampu berharap, ~semoga kita memiliki spirit pengorbanan spt yang dimiliki oleh tokoh-tokoh sejarah, ~walhasil, Mari bersama2 kita hadapi masa depan yang penuh tantangan ini dengan kejujuran, kecerdasan, kedewasaan dan kerendahan hati. SELAMAT TAHUN BARU MILADYAH 2009 (Salam: Nuruddin Hasan)

Aku : Pertemuan ini adalah hikmah, perpisahan hanyalah dusta. Jangan biarkan diri menjadi sebab saudara berbuat nista, indahnya hidup andai kita memberi makna pada warna rona di mata telinga kita, pujian bukanlah kata, cacian hanyalah cerita, nistaan sekedar sapa, kematian bagi kita tanpa rupa, hidup adalah makna bukan cinta, bukan fana. (mjkerto, 2 jan. 2009 di bis pelita).

Demikianlah hubungan keakraban kami, mungkin bermanfaat. Yang jelas aku bukan anggota PAN, tapi sangat mendukung Caleg yang berkualitas. wallahu’alam bisawab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Januari 2009 in Uncategorized

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: