RSS

Filosofi Sepeda, Sebuah Analogi Tugas dan Kewajiban

14 Mei

Apapun yang ada di dunia ini sebenarnya bisa di jadikan pelajaran bagi orang yang mau mengambilnya sebagai pelajaran. Seperti kata Pepatah orang Minang “Alam takambang jadi guru” yang kalau di Indonesiakan berarti “alam yang membentang luas jadi guru”.

Gambar

Alkisah, seorang ustadz abal-abal (maksudnya ustadz tradisional, tanpa gelar akademis!), memberikan nasihat kepada seorang ustadz yang bergelar akademis di belakang maupun di depan namanya. Dengan sangat bijak ustadz abal-abal ini menasihati ustadz akademis dengan filosofi sepeda. Sebab dengan gelar akademis setinggi apapun yang dia miliki, tak akan memberi pengaruh  apapun kepada kepada para muridnya apabila dia tidak bisa menghormati dan menghargai perjuangan para murid yang selama ini telah berjuang bersama-sama dalam menegakkan dakwah di bumi Allah ini.

Kisahnya, pada suatu malam terjadi dialog diantara komponen-komponen sepeda; Entah bagaimana pada awalnya, mendadak semua komponen sepeda dengan perasaan marah dan jengkel mengungkapkan jasa mereka masing-masing sehingga bisa menjadi wujud sepeda.

Berkata frame : “Kalau tidak ada aku, apa kalian bisa jadi sepeda ? Coba pikir, dimana kalian akan dipasangkan kalau tidak ada frame seperti aku.”

Dengan lantang perkataan frame dibalas oleh stang, ”Memang benar saya numpang sama kamu, tapi kalo saya gak ada, memang kamu bisa jalan?”

Tidak mau kalah berkata ban, ”Saya donk yang paling berjasa, kalau gak ada ban mana bisa anda-anda semua disebut sepeda.”

Dengan perasaan sedikit tersinggung berkata rims, ” Memang betul kalau gak ada ban kita memang gak bisa jalan sich, tapi kamu kan numpang sama saya.”

Mendengar temannya semakin ribut rantai pun tak mau kalah, dia pun berkata, ”Memang anda semua gak sadar ya, kalau tidak ada saya, kalian mau mengayuh apa?”

Dengan bijaksanan akhirnya rem berkata, ”Kalian semua memang berjasa, tanpa ada kalian tentu kita tidak bisa disebut sepeda. Tapi coba saudara pikir seandainya tidak ada saya, pasti kalian akan mati semua di jalan raya atau masuk jurang.”

Lalu berturut-turut  komponen-komponen lain menyebutkan jasa-jasa mereka, sehingga masing-masing komponen tersebut jadi tahu bahwa tanpa teman-teman yang ada di sekelilingnya, mereka tidak akan sempurna dikatakan sebuah sepeda.

Setelah mendengarkan argumen komponen-komponen lain, barulah mereka tahu jasa masing-masing komponen tersebut, lalu merekapun mencari-cari siapa yang tidak berjasa kepada sepeda. Akhirnya mereka melihat pentil yang kecil yang tersembunyi di dalam ban sepeda. masing-masing mereka mempertanyakan peranan pentil dalam dunia persepedaan. Karena lama berada di tempat tersembunyi dan lingkungan tempat dia berada selalu gelap serta tidak ada kawan yang menemani, pentil pun gagap, dia tidak tahu apa kontribusi dia terhadap dunia persepedaan (biasa, hidup terasing membuat si pentil jadi minder dan kuper). Karena pentil tidak bisa menunjukkan jasa-jasanya, akhirnya komponen sepeda yang lain sepakat kalau pentil tidak memberikan kontribusi apa-apa dalam dunia persepedaan karena kecil dan tersembunyinya. Dengan kesimpulan demikian merekapun menyuruh pentil untuk pergi dari dunia persepedaan, sebab dia tidak berguna.

Dengan sedih, malam itu pentil pergi dari tempat selama ini dia bersemanyam. Hatinya gundah gulana, kemana akan pergi dan apa yang bisa ia lakukan ketika tidak lagi bersama sepeda. Pekerjaan yang dia tahu selama ini hanyalah menahan angin agar tidak keluar dari ban sepeda. Dan sekarang dia terusir dari pekerjaannya. Tapi kalau dia bertahan, harga dirinya telah terinjak-injak oleh teman2nya yang merasa paling berjasa. Daripada harga diri terinjak-injak, lebih baik pergi menjauh,  agar tidak selalu mendapat hinaan. Seperti pepatah para pejuang kita dulu, ”Lebih baik berputih tulang, daripada berputih mata”.

Besok paginya, Tuan mereka -sang pemilik sepeda-  tidak jadi pergi bekerja membawa sepeda sebagai kendaraannya. sebab ketika hendak berangkat Tuan menemukan bannya kempes. Hingga dia memutuskan untuk naik oplet saja. Dan saat itulah baru komponen-komponen sepeda yang lain itu sadar, bahwa tanpa pentil yang kecil dan seperti tidak berguna itu, ternyata mereka tidak akan berarti apa-apa, sama sekali tidak berguna!

Kesimpulannya: Hargailah perjuangan (tugas, kewajiban, manfaat dan kegunaan) orang-orang yang bersama dengan Anda, baik dia itu bawahan Anda, teman-teman Anda, ataupun dia itu adalah murid dalam pengajian Anda. Sebab meski sekecil apapun kontribusi yang selama ini ia kerjakan, misal cuma membawakan minuman dan membersihkan meja Anda, yakinlah dia juga sangat berjasa pada Anda. (see original post).

Barangkali Anda Juga Tertarik Untuk Baca:

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 14 Mei 2012 in Islam

 

Tag:

2 responses to “Filosofi Sepeda, Sebuah Analogi Tugas dan Kewajiban

  1. renovasi rumah

    26 Januari 2013 at 1:48 am

    filosofi yg sgt tepat

     
  2. jarandawuk

    26 Januari 2013 at 2:41 am

    @renovasi rumah: Terimakasih, Boss… salam sukses semoga makin berjaya…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: